Membaca Strategi Pilgub Jawa Barat 2013

Membaca Strategi Pilgub Jawa Barat 2013
       Persaingan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat untuk periode 2013-2018 saat ini sudah mulai berlangsung. Berbagai trik dan strategi dilakukan oleh masing-masing cagub dan cawagub guna mendapat dukungan dari masyarakat Jawa Barat agar dapat menduduki kursi no 1 di Jawa Barat. Nama-nama kandidat yang akan menjadi cagub dan cawagub Jawa Barat tersebut yaitu Ahmad Heryawan–Deddy Mizwar, Dede Yusuf-Lex Laksmana, Rieke Dyah Pitaloka-Teten Maduki, Irianto MS Syaifiuddin (Yance)-Tatang Farhanul Hakim, dan Dikdik Mulyana Arif Mansur-Cecep Nana Suryana Toyib. Dari sederet nama-nama kandidat cagub dan cawagub tersebut ada beberapa nama yang tentunya sudah tidak asing lagi kita dengar yaitu Deddy Mizwar, Dede Yusuf dan Rieke Dyah Pitaloka yang merupakan public figure yang cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia. Drama kompetisi ini semakin menarik karena melibatkan selebritis yang sudah cukup terkenal di Indonesia. Apakah hal ini merupakan salah satu strategi??
 
       Dapat dilihat berpasangan dengan artis yang cukup terkenal ini merupakan salah satu strategi dan jalan pintas untuk meraih suara dari masyarakat. Dimana masyarakat sudah cukup mengenal dengan baik public figure tersebut dilayar televisi dengan citra positifnya. Partai lebih memilih jalan pintas berpasangan dengan artis terkenal daripada memilih kader dari partainya sendiri. Riset yang dilakukan oleh Kendall dan Yum dalam bukunya “Persuading The Blue Collar Voters: Issue, Images and Homophily” menunjukkan bahwa mayoritas orang akan memilih pemimpin seperti memilih teman. Daya tarik emosional dan personal seperti empati, integritas, kesukaan, kepandaian, dan kedekatan menjadi faktor penentu bagi seorang calon. Dalam hal ini seorang public figure dinilai memiliki kedekatan dengan masyarakat, sehingga hal ini memudahkan untuk meraih suara dari masyarakat, mengingat sebagian masyarakat yang akan memilih adalah pemilih non rasional.
 
      Jika dapat dilihat, strategi lainnya adalah penggabungan suara partai pendukung, seperti yang dilakukan oleh Dede Yusuf-Lex Laksmana yang menggabungkan suara partai pendukung dari Demokrat, PAN, PKB dan Gerindra. Sementara pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar merepresentasikan koalisi nasionalis religius PKS, PPP, PBB dan Hanura. Rieke-Teten dengan PDIP merupakan pasangan yang menggunakan Jokowi effect, dimana pasangan ini memposisikan sebagai kandidat yang paling merakyat dengan mengikuti jejak kesuksesan Jokowi yang mendapat sambutan positif dari masyarakat. Namun, strategi Rieke-Teten ini justru menimbulkan anggapan public bahwa strategi tersebut tidak kreatif dan terlalu dipaksakan. Sementara itu Golkar  terlihat lebih mengkombinasikan strategi penguasaan basis wilayah dan suara politik pada pasangan Irianto MS Syafiuddin atau yang akrab disapa Yance dengan Tatang Farhanul Hakim yang notebene adalah mantan kepala daerah bagian utara dan selatan Jawa Barat.
 
    Melihat fenomena-fenomena tersebut, dikhawatirkan pilkada Jawa Barat ini kurang memberikan pembelajaran politik, sehingga kurang mendapat akses untuk mendapat pemimpin yang idealis. Sementara harapan masyarakat Jawa Barat menginginkan pemimpin yang dapat membuat perubahan ke arah positif serta dapat mensejahterakan rakyatnya. Siapapun yang akan menang dalam pilkada Jawa Barat ini mudah-mudahan bisa membawa perubahan yang baik pada Jawa Barat.
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Senin, 17 Desember 12 - 01:14 WIB
Dalam Kategori : STRATEGI, CAGUB, CAWAGUB, JAWA BARAT
Dibaca sebanyak : 865 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback